Anisa, saya akan bercerita kepadamu tentang sebuah kota. Saya sering menyebutnya kota keindahan. Kota dimana untuk pertama kalinya saya melihatmu diantara kerumunan orang-orang, dan ketika itu saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya menatapmu dari jauh, hingga kamu menghilang dari kerumunan itu. Saya tidak tahu apakah kamu masih ada di
Anisa, sebagian warga
Anisa, karena kegeraman itu Bahri mengundang kami semua untuk berkumpul di rumah bunga. Ada Timpa, Nam, Alas, Biru, Azis, Amai dan beberapa teman yang lain, termasuk saya. Kami duduk mengelilingi sebuah meja besar, yang diatasnya hampir semua barang ada. Meja segala ada, begitu para penghuni rumah bunga memberi nama meja tersebut.
Bahri tidak dapat lagi membendung rasa geramnya setelah ada dua korban meninggal dunia, dua bocah berusia enam tahun tenggelam secara bersamaan. Dan pejabat berwenang mengatakan bahwa lubang itu tidak ada yang punya. Enam bulan sebelumnya di lubang yang lain, tiga bocah juga meninggal karena hal yang sama. Dan beberapa saat sebelum kami berkumpul, ada lubang lain yang tanggulnya jebol. Air berlumpur meluap dan membanjiri kawasan permukiman, sekolah dan areal pertanian warga disekitarnya. Lebih dari seribu siswa terpaksa diliburkan. Puluhan komputer rusak dan tidak mungkin diperbaiki. Lubang-lubang yang lain sedang menunggu waktu untuk jebol atau menengelamkan bocah-bocah yang lain. Dan Walikota Hari sejauh ini tidak melakukan apa-apa, bahkan mengeluarkan lagi ijin-ijin baru dengan model yang berbeda.
”kota ini dipenuhi lubang kematian, akan dipenuhi lubang kematian” katanya. Bahri juga mengatakan bahwa keinginan berkumpul seperti ini sudah lama tetapi tidak pernah terlaksana karena kecemasan kita pada kemampuan kita sendiri.
”kita tidak yakin” celetuk Nam
”bukan tidak yakin, kita ragu saja” kata Bahri
Setelah pertemuan itu, besok paginya Bahri, Nam dan saya mendatangi lokasi bencana dan keluarga korban. Kami dijemput di rumah Bahri oleh Pak Ron memakai mobil strada. Pak Ron duduk di sebelah sopir, kami bertiga dan Pak Gondrong duduk dibelakang, terasa sangat sempit. Pak Ron sedikit menarik kursinya kedepan dan saya harus duduk agak maju agar kami berempat bisa masuk. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Pak Ron dan Pak Gondrong.
Pak Ron berusia sekitar lima puluh tahun, memakai kacamata, sandal kulit, jika merk sandal itu asli harganya tidak kurang dari empat ratus ribu rupiah, tingginya sekitar seratus enam puluh sentimeter dengan berat tubuh proporsional. Sangat berbeda dengan Pak Gondrong yang berbadan besar, kulit gelap, rambut panjang agak keriting diikat ekor kuda, memakai kopiah hitam, sepatu kulit menutup mata kaki, perut agak sedikit buncit. Negara memberi tugas mereka untuk lebih banyak melihat dan menjaga rahasia. Pak Ron tidak tampak seperti itu.
Dalam perjalanan Pak Ron menyampaikan keinginannya untuk membawa kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi. Ia agak heran dengan keadaan ini, sudah hari ketujuhbelas tetapi belum juga ada tersangka. Pemberitaan di koran juga mulai sepi. Menurutnya orang-orang itu hidup dari kesengsaraan orang lain. Bahri mengatakan bahwa untuk kasus itu ia punya videonya lengkap.
"tiap bulan saya harus bikin laporan" kata Pak Ron
Pak Ron dan Bahri sama-sama memiliki dua orang anak, keduanya juga sama-sama ikut program keluarga berencana, dengan vasektomi. Bedanya di keluarga Pak Ron yang divasektomi adalah istrinya, sedangkan di keluarga Bahri, dia yang divasektomi.
"apa masih bisa naik" kata Pak Gondrong
Dulu enam bulan pertama setelah vasektomi Bahri sering merasakan kram, terutama kalau lagi dingin. Dengan vasektomi menurutnya punya banyak keuntungan, terutama jika mau nakal, karena pasti aman dan tidak akan membuat hamil. Dibanding cara-cara yang lain menurut literatur yang dibacanya cara yang dipakainya memiliki resiko terkecil. Selain cara mereka mengatur kelahiran anaknya, menurut Pak Ron mereka berdua juga memiliki kesamaan yang lain.
"kerja kami dengan Bahri sama, cuma kami lebih strategis" kata Pak Ron
Ditengah perjalanan kami melihat mobil honda CRV melintang di tengah jalan, dua ban depannya masuk kedalam lubang bekas galian pipa pdam, ada dua orang laki-laki yang mencoba mengangkat bagian depannya. Kata Pak Gondrong tidak mungkin mereka bisa mengangkat, karena mobil itu mesinnya ada di bagian depan.
"pdam memang jago merusak jalan" kata Pak Gondrong
Menurut Bahri kota itu juga mulai parah macetnya. Sedikitnya ada tujuh puluh unit motor terjual dalam satu bulan, untuk satu merk motor saja. Pak Ron bilang itu sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat yang meningkat. Kemudian Pak Ron juga menyampaikan target kunjungan ini adalah untuk melihat lokasi dan mendapatkan saksi yang mau menyebutkan nama perusahaan yang membuat lubang itu.
"kita hanya perlu tiga orang saksi yang mengatakan itu dulu ppm pak" katanya
Setelah sampai di lokasi bencana, Pak Ron berniat untuk mengurungkan niatnya karena mobil tidak bisa sampai ke tepi lubang. Ada police line yang dipasang disekitar lubang itu.
"atau kita tidak perlu ke lokasi, ke rumah saja, dua orang saksi cukup" katanya.
Tak seorangpun merespon apa yang dikatakan Pak Ron. Nam terus jalan, ia melangkahi batas police line itu, hati-hati ia menginjakkan kaki diantara batang-batang singkong yang baru mulai kelihatan tunasnya. Kami yang lain mengikuti di belakangnya. Kami harus melewati tanah becek dan sedikit mendaki.
Hanya perlu beberapa menit untuk bisa sampai di tepi lubangitu. Airnya berwarna biru kehijau-hijauan, jernih, dan nampak bersih. Jika bukan bekas tambang, saya juga pasti tidak tahan untuk tidak menceburkan diri. Ketika kami sedang berdiri di tempat itu seorang laki-laki mendatangi kami. Ia memakai kaos warna putih yang bagian depannya ada gambar Walikota Hari, sebagian besar rambutnya telah memutih, juga sebagian jenggot dan kumisnya, bercelana pendek yang menutupi lutut dan memakai sandal jepit. Ia mengaku pernah dipanggil ke kantor dewan dan menceritakan bagaimana asal mulanya lubang itu. Pak Tomo namanya.
Tak lama kemudian datang Mas Rahmat, usianya jauh lebih muda dari Pak Tomo, memakai topi dan kaos salah tim sepakbola dunia, celana pendek, jam tangan berwarna perak di tangan kirinya dan tiga gelang dari kayu yang dibentuk bulatan-bulatan kecil. Rumah mereka tidak jauh dari lubang itu.
Pak Tomo dan Mas Rahmat menjelaskan kepada kami tentang asal-usul lubang itu. Menurut mereka yang membuat lubang itu bukan andini, memang andini pernah bekerja di sekitar kampung mereka tetapi lubang itu yang membuat bukan andini. Pak Ron mengajak mereka untuk mencari tempat ngobrol yang lebih nyaman.
"kalau di rumah korban lebih bagus lagi" kata Mas Rahmat.
Satu persatu dari kami meninggalkan lubang itu, mengikuti Mas Rahmat yang berjalan paling depan. Pak Ron berjalan di sebelahnya. Kemudian disusul Pak Gondrong, agak jauh dibelakang Bahri dan Nam.
"itu rumah saya pak, makanya saya tahu persis" kata Mas Rahmat ketika kami tepat berada di depan rumah keluarga salah satu korban. Rumahnya tepat disebelahnya. Kami kemudian duduk melingkar di halaman rumah salah satu korban tersebut. Pak Ron memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksudnya.
”kami membantu bapak, supaya prosesnya jalan” kata Pak Ron.
Tak lama kemudian seorang laki-laki berseragam bergabung bersama. Pak Iim begitu ia memperkenalkan diri. Pak Iim adalah paman dari salah satu korban. Pak Iim menjelaskan kronologis bagaimana lubang itu terbentuk. Di banding dari bapak-bapak yang lain, keterangan dari Pak Iim paling lengkap dan lebih detail. Dan menurut bapak-bapak yang lain informasi dari Pak Iim yang paling benar. Ia juga pernah menyampaikan hal yang sama ketika beberapa waktu yang lalu dipanggil ke kantor dewan untuk memberikan kesaksian.
Seorang laki-laki berseragam yang lain berjalan kearah kami, didada sebelah kiri ada tulisan namanya, Mansur. Nam beranjak dari kursinya, bergegas mendekati laki-laki itu. Mereka kemudian berjalan bersama menjauh dari kami.
Ketika Nam beranjak dari kursinya seorang kakek yang rambutnya penuh uban keluar dari rumah, menatap ke arah Pak Ron.
”bapak dari mana” katanya
Pak Ron menoleh ke arah Bahri. Dan Bahri langsung menjelaskan nama lembaga tempat dia bekerja. Kemudian kakek itu meminta Bahri untuk menunjukkan kartu namanya. Bahri mengeluarkan dompetnya, membuka setiap lipatan.
“kebetulan lagi habis kartu namanya pak” kata Bahri.
Kemudian ia menyampaikan bahwa pada selamatan tujuh hari kemarin dia juga hadir. Dan sebenarnya kedatangan hari ini juga telah disampaikan kepada salah satu keluarga korban. Kakek kemudian mengatakan sudah ada banyak orang yang datang dan bertanya, dia agak bingung dengan semua itu. “kami hanya ingin tahu, karena banyak betul” katanya
“kami ingin hukum itu jalan, kami sifatnya membantu supaya ada jalan keluar” kata Pak Ron.
Pak Iim juga mengatakan bahwa ppm akan uang kedukaan seratus juta rupiah.
”untuk uang damai” katanya
”bukan permintaan damai pak” potong seorang laki-laki muda yang berdiri bersandar di pintu masuk. Laki-laki itu umur sekitar tiga puluh tahunan. Sepertinya ayah dari salah satu korban.
”urusan damai itu urusan belakang, yang penting mereka udah bayar untuk urusan selamatan” kata Pak Iim. Ia juga tahu siapa pemilik ppm. Salman Sad, Apau Wing dan mantan walikota Andreas Ang. Sebelum kami pulang Pak Iim sekali lagi mengatakan keinginan terhadap ppm.
” tolong urusan selametan itu selesai dulu, kalau tidak nanti urusan yang lain dipersulit” katanya.
Pak Ron meminta nomor kontak beberapa orang penting di ppm. Dan untuk yang kesekian kali pula Pak Ron menyampaikan maksudnya.
”kami kan mau membantu” katanya.
Pak Imun juga mengatakan bahwa Walikota Hari memiliki hutang janji dengannya.
”nanti saya mau telpon” katanya.
Dalam perjalanan pulang Bahri mengungkapkan keterkejutan akan munculnya nama ketiga sebagai pemilik ppm. Dua nama yang pertama sudah diketahuinya sejak lama, tetapi nama mantan walikota baru diketahuinya hari ini. Kemudian Nam menceritakan tentang Mansur.
Mansur adalah korban tambang yang pernah didampinginya. Sekarang ia bekerja di salah satu perusahaan tambang yang ada di kota ini, tetapi bukan di perusahaan yang membuat lubang itu. Ia datang ke kampung ini untuk mendatangi perempuan yang disukainya, karena itu ia memakai seragam lengkap. Menurutnya banyak perempuan yang suka dengan laki-laki berseragam, dan biasanya para orang tua juga menyukainya.
”nampak gagah, dan kelihatan lebih berwibawa, juga memiliki masa depan” kata Nam menirukan ucapan Mansur.
Cerita tentang Mansur berakhir ketika Pak Ron mengajak kami singgah di warung padang. Dan setelah itu kami diantar kembali ke rumah Bahri. Pak Ron sempat meminta Bahri untuk menemaninya ke lokasi tanggul yang jebol, tetapi Bahri menolaknya, anaknya yang pertama demam dan dia harus segera membawanya ke dokter.
Setelah tiba dirumah Bahri saya langsung pergi ke rumah bunga, tetapi ada yang saya lupa bahwa besok Bahri akan membawa teman-teman untuk melakukan aksi di kantor gubernur. Saya tidak tahu mereka akan berangkat jam berapa.
Informasi yang saya terima dari Bahri, mereka akan berangkat jam sembilan pagi berjalan menuju kantor gubernur. Ternyata waktunya molor, jam sembilan saya datang ke tempat yang dimaksud oleh Bahri, orang-orangnya masih belum ada. Saya memutuskan untuk langsung ke kantor gubernur, menunggu di sana. Karena saya kesulitan untuk mencari tempat duduk, akhirnya saya pergi ke tempat lain. Kalau saja saya belum sarapan nongkrong diwarung jauh lebih menyenangkan, dan mall belum ada yang buka.
Tempat sejuk yang mungkin bisa saya datangi adalah bank. Saya harus cari bank yang paling dekat dengan kantor gubernur. Sesampainya di bank saya mencari tempat duduk paling ujung, mengeluarkan laptop dan merapikan beberapa tulisan. Sesekali saya mengeluarkan ponsel, hanya ingin menunjukkan seolah-olah saya sedang menunggu seseorang. Seandainya ada petugas bank yang bertanya saya akan katakan sedang menunggu teman.
Setelah satu jam saya keluar dari bank tersebut. Ketika saya keluar pak satpam yang berdiri didekat pintu nampak agak bingung. Barangkali mau bertanya kepada saya, masuk tanpa mengambil antrian dan kemudian keluar tanpa melakukan transaksi apapun. Saya ucapkan terima kasih ketika dia membukakan pintu buat saya. Dan saya berbisik kepadanya ”tadi saya numpang ngadem pak”. Pak satpam itu hanya tersenyum.
Ketika saya sampai di depan kantor gubernur, pintu gerbangnya telah ditutup, puluhan satpol pp dan polisi berdiri dibelakangnya. Bahri dan teman-teman telah ada diujung jalan. Ada hampir seratus orang. Nam, Azis dan Biru ada bersama mereka. Selain beberapa bendera berwarna merah dan hitam, mereka juga membawa spanduk besar, sekitar empat kali enam meter. Bertuliskan solidaritas anti pembantaian rakyat, dan berisi dua tuntutan mereka. Selesaikan kasus-kasus konflik agraria dan tarik mundur aparat bersenjata dari daerah konflik.
Tiga orang polisi lalu lintas sedang mengatur jalan. Selama sekitar sepuluh menit satu jalur jalan dikuasai oleh Bahri dan teman-teman. Setelah mereka berada di depan pintu gerbang jalanan kembali lancar. Dengan memakai toa Bahri meminta kepada teman-teman untuk lebih menepi agar tidak menganggu jalan. Nam dan Biru memasang spanduk besar itu di pintu gerbang yang dijaga oleh puluhan satpol pp dan polisi.
Seorang laki-laki separoh baya memasang speaker yang lebih besar didekat pintu gerbang dan diarahkan ke kantor gubernur. Laki-laki itu memakai sandal jepit, celana pendek dan kaos oblong. Sebagian besar rambutnya telah memutih. Usianya pasti tidak kurang dari lima puluh tahun. Setelah memasang speaker ia kemudian menyalakan genset yang diikatnya dibagian belakang jok motornya. Ada dua mikropon yang ditaruhnya ditrotoar, diatas stabiliser dan charger mikropon.
Ia mengambil salah satu mikropon dan mencobanya, dan kemudian menyerahkan mikropon tersebut kepada Bahri. Kini suaranya jauh lebih nyaring daripada sebelumnya. Suara-suara itu pasti didengar oleh setiap orang yang ada di kantor itu, termasuk gubernur. Tak lama kemudian beberapa orang lagi datang bergabung, sepertinya Biru mengenal mereka. Ia mendatangi orang-orang itu dan menyalaminya satu persatu.
Mikropon tidak lagi dipegang oleh Bahri. Mikropon itu telah ada ditangan seorang laki-laki muda berbaju merah, berambut gondrong, celana blue jeans yang robek dibagian lututnya, lipatan kertas putih ada disaku celana bagian belakang, sepatu warna putih, jam tangan warna perak dan dua gelang melingkar ditangan kirinya. Dengan penuh semangat dan suara serak-serak basah ia mengatakan bahwa penindasan dan perampasan tanah oleh korporasi harus dihentikan. Ia mengacung-acung tangan kirinya sambil terus berteriak dan bersuara.
Bahri duduk bersila didekat pintu gerbang. Ia memakai pakaian serba hitam, termasuk slayer yang dipakai untuk menutupi sebagian mukanya. Ia hanya memakai celana pendek sehingga kelihatan tato gambar ular di kaki kanannya. Itu adalah tato terbaru yang ada ditubuhnya. Masih banyak tato-tato lain yang ada di sekujur tubuhnya. Seorang polisi berdiri tidak jauh dari tempat dia duduk. Entah apa yang ada dibenak polisi itu ketika profesinya dicaci maki oleh suara-suara itu. Suara yang berasal dari laki-laki berbaju merah yang lain.
Ia memakai sweater warna hitam yang hanya disangkutkan di kedua bahunya, celana jeans hitam, sandal gunung, gelang rantai warna perak ditangan kirinya. Ia memimpin para demonstran menyanyikan lagu-lagu pembebasan. Dan dengan penuh semangat ia meneriakkan ”hidup rakyat yang melawan” secara berulang-ulang, yang diikuti oleh para demonstran.
Secara bergantian mikropon itu berpindah tangan. Setelah laki-laki berkaos hitam itu mikropon itu dipegang oleh perempuan berjilbab, baju coklat, hidup perempuan yang melawan, sepatu laras hak tinggi, rangsel dipunggungnya, kacamata, mikropon di tangan kanan, tangan kiri pegang blackberry warna merah, tiga gelang emas melingkar ditangannya. Kemudian berpindah ke perempuan berambut panjang, berkulit putih, slayer biru yang diikatkan diatas kepalanya.
Kemudian Bahri mengambil mikropon dan mempersilahkan kepada salah seorang masyarak korban. Seorang laki-laki maju, tinggi seratus enam puluh lima sentimeter, berat lima puluh kilo gram, berkumis tipis, jenggot nampak baru dicukur, kaos berkerah garis-garis horisontal, kedua kancingnya terbuka, celana kain warna hitam, topi hitam. Ia bersama masyarakat lain datang ke kantor ini karena ia merasa dipermainkan, dijebak dengan berbagai cara. Perusahaan dan aparat keamanan membuat skenario sehingga akhirnya ia bersama dua temannya dijadikan tersangka. Tiba-tiba seorang laki-laki lain maju kedepan, menunjukkan kertas berwarna kuning.
”kami dijadikan tersangka di rumah kami sendiri” katanya sambil membuka dan mendekatkan kertas kuning itu kearah para polisi dan pamong praja. Setelah itu ia menyerahkan mikropon ke temannya dan kembali duduk di trotoar.
”dimana lagi kami akan menaruh harapan, kemana kami harus mengadu” kata laki-laki itu, dan kemudian menyerahkan kembali mikroponnya ke Bahri.
Bahri mempersilahkan masyarakat dari kampung lain untuk menyampaikan pendapatnya. Seorang laki-laki tua, jaket hitam maju. Tubuhnya kurus dan giginya ompong. Ia menerima mikropon dari tangan Bahri. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya, ia dulu adalah salah satu pendukung gubernur, dan juga merupakan tim suksesnya. Ia merasa kecewa karena gubernur sepertinya tidak memiliki kepedulian sama sekali dengan rakyatnya, terutama rakyat kecil seperti dirinya.
”kami akan mengadu kemana, semua tidak ada yang peduli, kalau mengadu ke perusahaan harus lewat prosedur, harus lapor ke lurah dan camat, tetapi lumpurnya tidak pernah lapor ke lurah atau ke camat” katanya.
Setelah itu, giliran Pastur Kopong yang memegang mikropon.
”siang ini saya tidak akan membacakan doa” katanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar