Rabu, 04 Januari 2012

Mantra Perontok Jiwa (7)

Sambil menunggu panen tiba Sendra membuat dua keranjang besar, dari bambu, berbentuk segi empat, di setiap ujungnya diikatkan sebuah tali sepanjang  kurang lebih setengah meter, keempat tali tersebut diujungnya diikat menjadi satu. Ia juga menyiapkan tongkat bambu sepanjang hampir dua meter.


Tiba harinya untuk panen, pagi-pagi buta, ketika kabut belum menghilang Sendra sudah mulai memanen, kemudian mengikatnya dengan ukuran tertentu dan memasukkannya ke keranjang. Ketika hari mulai terang kedua keranjangnya telah terisi dengan berbagai jenis sayuran. Setelah membersihkan diri ia membawa sayur-sayuran itu ke kota. Dua keranjang itu dipikulnya dengan tongkat bambu yang telah dihaluskan bagian tengahnya. Jika tidak ada halangan sebelum tengah hari ia akan sampai di kota keindahan.


Untuk mencapai kota ia akan melewati beberapa kampung. Salah satu kampung yang akan dilewati adalah kampung tempat perempuan yang rambutnya dikepang dua. Kampung itu adalah kampung terakhir sebelum ia memasuki kota. Ia berharap untuk tidak bertemu dengan perempuan itu. Ia tidak berniat untuk menjual dagangan di kampung-kampung itu, tetapi hampir di setiap kampung selalu saja ada orang yang membeli dagangannya. Dan ketika memasuki kampung perempuan itu dagangannya tinggal separuh.


Sendra sempat ragu untuk meneruskan perjalanan, dan berniat kembali. Ia tidak sanggup jika harus bertemu dengan perempuan itu.


"aku telah membuat bukit batu menjadi hijau, aku tidak boleh menyerah" Sendra bergumam sambil terus berjalan


Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang ketika ia melihat rumah perempuan itu. Secara berangsur-angsur jalannya melambat. Ia merasakan kedua kakinya semakin tak bertenaga, otot kaki dibagian belakang lututnya seperti tak mau diajak melangkah, seketika ia jatuh terduduk. Dua keranjangnya jatuh ke tanah, untungnya isinya tidak tumpah. Cukup lama ia terduduk di situ, untungnya tidak ada orang yang lewat, untungnya juga perempuan itu tidak keluar rumah. Ia tidak tahu apa jadinya jika perempuan itu keluar. Sendra tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Bagaimana bisa tiba-tiba ia seperti tak bertenaga. Hati dan pikirannya punya kemauan yang berbeda. Otaknya memerintahkan untuk menjauh dari perempuan itu, tetapi hatinya menginginkan sebaliknya. Pertempuran itu membuatnya lelah. Membuatnya terduduk hanya dengan melihat rumahnya. 

Bagaimana jika ia melihatnya? Bagaimana jika ia menatap matanya? Bagaimana jika ia mendengar suaranya? Bagaimana jika ia menyentuh kulitnya?


Untuk menenangkan diri ia menepi, mencari tempat yang teduh. Ia duduk bersandar pada sebuah batang pohon. Untuk beberapa lama ia duduk di tempat itu. Hanya diam, matanya melihat kedepan, tetapi tak jelas apa yang dia lihat. Sesekali terdengar gumam dan desah dari mulutnya.

"aku tak bisa Tuhan" gumamnya lirih

Sendra mengingat kembali bagaimana perjumpaannya yang singkat. Ia mengingat semua kejadian kecil yang bisa diingatnya. Ia tak ingin menghilangkan kenang-kenangan itu. Ia tidak akan membuang kenang-kenangan itu. Ia tidak mungkin bisa melupakan sebentuk senyum yang sering diperlihatkannya tanpa menampakkan giginya. 


"Tuhan, aku mau senyum itu yang menemaniku"


Berkali-kali dalam guman dan desahnya ia menyebut Tuhan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Ia menunggu keajaiban datang. Ia akan menunggu dan terus menunggu. Gumam itu semakin lama semakin lemah dan kemudian menghilang bersama matanya yang terpejam.


Mendekati sore ia terjaga. Setelah mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dimilikinya ia melanjutkan perjalanan ke kota. Bukan karena harus menjual dagangan yang tersisa. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar menghabiskan dagangan. Ia harus bisa melewati rumah itu dengan kepala tegak. Jika ia mampu melakukannya, suatu saat nanti ia pasti akan datang kerumah itu. Ia akan mengatakan apa keinginannya. Untuk itu ia tak lagi peduli apakah nanti dagangannya akan dibeli orang.


Ia pikul keranjang di bahu sebelah kiri. Ia mulai melangkah. Ia kelihatan berusaha untuk menghentakan setiap langkah kakinya dengan mantap. Tanpa keraguan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar