Emak, lima hari yang lalu aku pergi ke desa bersama beberapa teman. Tidak terlalu jauh, hanya lima hingga enam jam perjalanan darat. Di kampung itu bermukim ’suku asli’ kalimantan. Emak tentu tahu apa yang kumaksud. Aku dan teman-temanku datang ke kampung itu untuk bekerja, membantu mereka mendapat persetujuan dari orang-orang desa, mempermudah mereka melakukan rencananya.
Emak, tidak semua dari orang-orang desa itu suka dengan kedatangan kami. Karena mungkin tersinggung mereka pergi sebelum kami menyampaikan maksud kedatangan kami. Aku maklum dengan ketersinggungan itu, karena terkadang memang ada batu yang tak mudah dipecahkan, ada luka yang memang tak mudah disembuhkan. Bahkan goresan saja akan menimbulkan bekas yang bertahan cukup lama.
Emak, aku tak mengatakan apa-apa ketika mereka pergi. Aku juga tak mengatakan apa-apa setelah sekian lama mereka pergi. Aku masih tak mengatakan apa-apa ketika perjalanan pulang. Emak, aku tak ingin terjebak untuk mencari pembenaran. Aku tak ingin ikut-ikutan mengatakan bahwa orang-orang desa itu keras kepala, egois, mau menang sendiri dan masih banyak istilah yang lain.
Emak, jika mau fair bukankah kami dan mereka yang mau menang sendiri, mau urusannya cepat sekali tanpa peduli kepada orang-orang itu. Tapi sudahlah mak, aku tak ingin membuatmu bingung dengan menceritakan lebih banyak tentang pekerjaanku. Aku ingin menceritakan yang lain kepadamu. Aku ingin menceritakan tentang Anisa.
Emak, belum lama aku mengenalnya tetapi aku sudah terpikat olehnya. Aku tak ingin jauh darinya mak
Emak, sekarang Anisa sedang pergi.
Emak, temani aku menunggunya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar