Emak, aku malu. Entah karena apa. Ada keinginan yang kuat untuk pergi. Barangkali ini isyarat dari Tuhan bahwa aku harus mempersiapkan diri untuk itu. Emak, desas-desus itu benar. Anisa ada di luar negeri, dia ada di Selandia Baru, bekerja di sebuah perkebunan kiwi. Dalam suratnya Anisa menceritakan tentang tempat kerjanya. Dia mengatakan ada di sebuah dusun yang subur, tidak jauh dari Wellington. Dia senang karena setiap hari bisa makan kiwi gratis, sepuasnya. Pekerjaan tidak berat, hanya memanen buah kiwi yang bergelantungan diatasnya dan memasukkan kedalam keranjang, yang kemudian keranjang-keranjang tersebut akan di ambil oleh pekerja laki-laki.
Emak, sepertinya ia sangat bahagia, dia bercerita tentang perasaan senangnya ketika sedang memetik buah kiwi yang bergoyang-goyang. Angin yang sejuk pelan-pelan menggoyangkan buah kiwi di antara daun-daunnya, yang tepat berada diatas kepalanya. Dia bilang seperti menangkap bulan dan bintang.
Emak, terkadang aku merasa kota ini mulai aneh, menjadi agak asing dan jauh. Emak, besok aku akan pergi, mungkin agak lama, dan sepertinya akan sulit untuk menulis surat kepadamu mak.
Emak, sepertinya ia sangat bahagia, dia bercerita tentang perasaan senangnya ketika sedang memetik buah kiwi yang bergoyang-goyang. Angin yang sejuk pelan-pelan menggoyangkan buah kiwi di antara daun-daunnya, yang tepat berada diatas kepalanya. Dia bilang seperti menangkap bulan dan bintang.
Emak, terkadang aku merasa kota ini mulai aneh, menjadi agak asing dan jauh. Emak, besok aku akan pergi, mungkin agak lama, dan sepertinya akan sulit untuk menulis surat kepadamu mak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar