Kematian Ates membawa duka mendalam pada Tari istrinya. Hingga beberapa minggu Tari mengurung diri di kamar. Setelah satu bulan baru ia mau keluar kamar dan mulai mengobrol dengan tetangganya yang sejak kematian suaminya secara bergantian menemani Tari di rumahnya. Setelah tiga bulan, baru ia bisa menginjakkan kakinya di halaman tempat suaminya terbunuh. Itupun dengan dituntun oleh seorang tetangga. Pertama kali ketika dia tepat berada ditempat dia memeluk tubuh suaminya ia jatuh pingsan. Yang kedua kali kedua kakinya bergetar dan ia langsung terduduk, ketika itu ia tidak mau seorangpun menolongnya. Pelan-pelan ia bangkit berdiri tegak di tempat itu.
Kematian Ates juga membuat Alas dan teman-temannya berhenti mencari lelaki dengan goresan luka. Alas masih belum sepenuhnya bisa menghilangkan perasaan bersalahnya.
Ditempat lain, Sendra berdiri diatas bukit tempat dia selama ini menghabiskan waktunya. Ia sedang memandangi hasil karyanya selama hampir empat bulan. Ia menyulap bukit tandus berbatu menjadi bukit yang hijau. Terselip senyum di sudut bibirnya. Sepanjang siang selama hampir empat bulan ia memeras keringat. Pertama ia mengumpulkan batu-batu yang ada dibukit itu, kemudian menyusunnya melintang bukit membentuk garis-garis mendatar. Batu-batu itu akan menahan kikisan erosi dari atas. Kemudian ia mengambil berbagai bunga yang ada di hutan dan menyemainya di situ. Di bagian paling bawah ia menanami dengan berbagai jenis sayuran. Ia juga mengali sebuah lubang untuk menampung air hujan, untuk mandi dan menyirami tanamannya.
Semua itu dilakukannya dari pagi buta hingga menjelang tengah hari, setelah istirahat sejenak ia akan melanjutkan di sore hari. Pada waktu luangnya, ia mengukir batu-batu yang ada di dekat tempat dia beristirahat. Hampir semua batu yang permukaannya datar terukir dengan bentuk yang sama, wajah seorang perempuan yang rambutnya dikepang dua.
Jerih payahnya tidak sia-sia. Sekarang ia bisa menikmati hasilnya. Bukit itu sering membuat beberapa orang yang sering lewat disekitar tempat itu terheran-heran, kagum. Terkadang ada juga yang singgah dan mengagumi dengan apa yang telah dilakukan Sendra. Ia punya beberapa teman karena kunjungan seperti itu, kebanyakan petani yang ada di sekitar situ. Orang-orang yang pernah singgah itu yang kemudian menjadi temannya. Hanya orang-orang itu, karena Sendra tidak pernah meninggalkan bukit itu. Ia tidak bisa pergi dan ia memang tidak ingin pergi. Ia tidak ingin lagi berlari. Ia tidak ingin meninggalkan sesuatu yang semakin lama semakin dicintainya.
Seringkali pada malam yang hening Sendra berdiri di bagian bukit yang paling tinggi. Kepada Tuhan yang diyakini ia berdoa "Tuhan aku hanya ingin mencintainya".
Karena kebiasaannya berdiri tengah malam di ujung bukit itu membuat beberapa orang curiga. Itu bukan pekerjaan manusia, apalagi seorang diri, begitu katanya. Mereka menduga Sendra bersekutu dengan makluk selain manusia, karena itulah ia mampu menyulap bukit berbatu menjadi penuh warna.
Tak lama lagi beberapa jenis sayur yang ditanam Sendra sudah harus dipanen. Ia agak bingung, mau dikemanakan semua itu. Temannya yang juga seorang petani menyarankan untuk menjualnya keliling kampung, atau kalau lebih mahal dijual ke kota, orang kota biasanya akan membeli dengan harga yang lebih mahal. Bahkan kadang-kadang uang kembaliannya tidak mau diambil.
Kematian Ates juga membuat Alas dan teman-temannya berhenti mencari lelaki dengan goresan luka. Alas masih belum sepenuhnya bisa menghilangkan perasaan bersalahnya.
Ditempat lain, Sendra berdiri diatas bukit tempat dia selama ini menghabiskan waktunya. Ia sedang memandangi hasil karyanya selama hampir empat bulan. Ia menyulap bukit tandus berbatu menjadi bukit yang hijau. Terselip senyum di sudut bibirnya. Sepanjang siang selama hampir empat bulan ia memeras keringat. Pertama ia mengumpulkan batu-batu yang ada dibukit itu, kemudian menyusunnya melintang bukit membentuk garis-garis mendatar. Batu-batu itu akan menahan kikisan erosi dari atas. Kemudian ia mengambil berbagai bunga yang ada di hutan dan menyemainya di situ. Di bagian paling bawah ia menanami dengan berbagai jenis sayuran. Ia juga mengali sebuah lubang untuk menampung air hujan, untuk mandi dan menyirami tanamannya.
Semua itu dilakukannya dari pagi buta hingga menjelang tengah hari, setelah istirahat sejenak ia akan melanjutkan di sore hari. Pada waktu luangnya, ia mengukir batu-batu yang ada di dekat tempat dia beristirahat. Hampir semua batu yang permukaannya datar terukir dengan bentuk yang sama, wajah seorang perempuan yang rambutnya dikepang dua.
Jerih payahnya tidak sia-sia. Sekarang ia bisa menikmati hasilnya. Bukit itu sering membuat beberapa orang yang sering lewat disekitar tempat itu terheran-heran, kagum. Terkadang ada juga yang singgah dan mengagumi dengan apa yang telah dilakukan Sendra. Ia punya beberapa teman karena kunjungan seperti itu, kebanyakan petani yang ada di sekitar situ. Orang-orang yang pernah singgah itu yang kemudian menjadi temannya. Hanya orang-orang itu, karena Sendra tidak pernah meninggalkan bukit itu. Ia tidak bisa pergi dan ia memang tidak ingin pergi. Ia tidak ingin lagi berlari. Ia tidak ingin meninggalkan sesuatu yang semakin lama semakin dicintainya.
Seringkali pada malam yang hening Sendra berdiri di bagian bukit yang paling tinggi. Kepada Tuhan yang diyakini ia berdoa "Tuhan aku hanya ingin mencintainya".
Karena kebiasaannya berdiri tengah malam di ujung bukit itu membuat beberapa orang curiga. Itu bukan pekerjaan manusia, apalagi seorang diri, begitu katanya. Mereka menduga Sendra bersekutu dengan makluk selain manusia, karena itulah ia mampu menyulap bukit berbatu menjadi penuh warna.
Tak lama lagi beberapa jenis sayur yang ditanam Sendra sudah harus dipanen. Ia agak bingung, mau dikemanakan semua itu. Temannya yang juga seorang petani menyarankan untuk menjualnya keliling kampung, atau kalau lebih mahal dijual ke kota, orang kota biasanya akan membeli dengan harga yang lebih mahal. Bahkan kadang-kadang uang kembaliannya tidak mau diambil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar