Keempat laki-laki ganteng itu masih terus saling memukul membabi buta. Tubuh mereka lebam-lebam, dari hidung dan mulut Amai mengeluarkan darah karena menerima dua kali tendangan telak kaki kanan Alas. Perkelahian yang tak jelas awal mulanya itu baru berhenti setelah keempatnya sama-sama kehabisan tenaga, terkapar di halaman rumah, nafasnya tersenggal-senggal. Beberapa kali terdengar rintihan dari mulut mereka. Tak lama kemudian mereka tertidur lagi.
Mereka baru terbangun satu jam kemudian ketika hujan mulai turun, dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Amai terlihat paling parah, ketika air hujan membasahi kulit wajahnya yang terluka ia menjerit. Segera mereka semua dengan berlarian masuk ke dalam rumah. Setelah itu mereka saling bertanya mengapa mereka tadi berkelahi. Lama mereka terdiam.
Akhirnya Amai yang mulai mengaku duluan. Lelaki yang kemarin mereka keroyok datang dalam mimpinya. Lelaki itu mengancam akan mengambil jiwanya. Kemudian Alas, Acoi dan Akul juga mengakui hal yang sama.
"kita harus membunuhnya" kata Alas yang disetujui oleh ketiga temannya.
Tangan Akul mencengkeram erat gagang pedang panjangnya. Menurut pengakuannya dengan pedang itu ia telah melintasi tujuh gunung, dan membunuh tiga belas kesatria. Alas membuka kain putih yang membungkus senjatanya. Senjata itu seperti kapak sepanjang satu meter. Konon kapak itu bisa terbang dan menebas musuh-musuhnya. Acoi menyiapkan anak panah dan busurnya. Selama busur itu ada padanya baru sekali ia melepaskan anak panahnya, ketika itu puluhan orang tewas dengan kulit menghitam. Ketika anak panah itu terlepas ia tidak harus mengenai sasaran untuk membunuhnya. Ketika anak panah itu terlepas dalam jarak dua meter kanan dan kirinya akan gosong. Amai mengeluarkan sebuah peti dari dalam kamar. Membukanya. Ia menyelipkan pisau kecil dipahanya, menyelipkan keris di ikat pinggang bagian belakang, dan terakhir ia mengeluarkan golok bermata ganda. Cerita yang beredar mengatakan konon dengan golok itu Amai bisa melintasi sungai dengan berlari.
Desas-desus yang mereka dengar lelaki itu ada di rumah Ates. Sedang terbaring sakit setelah kemarin mereka hajar. Jika mau membunuhnya sekaranglah saat yang tepat. Mereka berjalan ke rumah Ates dengan penuh kemarahan. Menghardik siapa yang mereka temui. Menendang apa saja yang ada di depan kaki mereka.
Ditempat lain, Ates bersama istrinya masih kebingungan dengan menghilangnya Sendra. Perempuan yang rambutnya dikepang dua menyalahkan suaminya atas kepergian Sendra.
"dia pasti dengar Mas Ates marah-marah" katanya ketus sambil berlalu meninggalkan Ates, masuk ke kamar dan menutup daun pintu dengan membantingnya, sehingga menimbulkan bunyi yang keras.
Tak lama kemudian Akul dan teman-teman telah tiba di depan rumah Ates. Mereka berteriak-teriak memanggil nama Ates dan menyuruh keluar. Ates keluar. Alas yang telah dipenuhi rasa amarah maju kedepan mencengkeram leher Ates dan menanyakan keberadaan lelaki dengan goresan luka.
Ates memberontak memberi isyarat ke Alas untuk melepaskan cengkeramannya. Setelah cengkeraman itu lepas ia kemudian menceritakan menghilangnya lelaki itu secara tiba-tiba. Mereka berempat tidak ada yang percaya. Alas memukul dan kemudian menendang Ates dengan telak. Ates jatuh tergelatak dan keempat laki-laki itu kemudian masuk kerumah. Mengobrak-abrik setiap ruangan. Tetapi mereka tak juga menemukan lelaki yang mereka cari. Hanya satu ruangan yang belum mereka masuki. Kamar tidur utama. Kamar itu di kunci dari dalam oleh istrinya Ates.
Amai segera mendobrak pintu itu. Dan tak lama kemudian keluar lagi, setelah mengobrak-abrik seisi kamar yang membuat istri Ates berlari keluar menjerit sambil berlari ketakutan. Karena tidak menemukan yang dicari mereka merusak segala yang ada dekat mereka. Setelah semua benda di ruang tengah itu tak ada yang utuh lagi mereka baru meninggalkan rumah itu. Tepat pada saat itu terdengar jeritan seorang perempuan dari halaman rumah. Istri Ates menjerit sambil memeluk tubuh suaminya.
Tendangan Alas terlalu keras dan tepat di jantung, membuatnya seketika berhenti berdetak.
Ada sedikit rasa sesal terlihat di raut muka Alas ketika ia meninggalkan rumah itu.
Mereka baru terbangun satu jam kemudian ketika hujan mulai turun, dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Amai terlihat paling parah, ketika air hujan membasahi kulit wajahnya yang terluka ia menjerit. Segera mereka semua dengan berlarian masuk ke dalam rumah. Setelah itu mereka saling bertanya mengapa mereka tadi berkelahi. Lama mereka terdiam.
Akhirnya Amai yang mulai mengaku duluan. Lelaki yang kemarin mereka keroyok datang dalam mimpinya. Lelaki itu mengancam akan mengambil jiwanya. Kemudian Alas, Acoi dan Akul juga mengakui hal yang sama.
"kita harus membunuhnya" kata Alas yang disetujui oleh ketiga temannya.
Tangan Akul mencengkeram erat gagang pedang panjangnya. Menurut pengakuannya dengan pedang itu ia telah melintasi tujuh gunung, dan membunuh tiga belas kesatria. Alas membuka kain putih yang membungkus senjatanya. Senjata itu seperti kapak sepanjang satu meter. Konon kapak itu bisa terbang dan menebas musuh-musuhnya. Acoi menyiapkan anak panah dan busurnya. Selama busur itu ada padanya baru sekali ia melepaskan anak panahnya, ketika itu puluhan orang tewas dengan kulit menghitam. Ketika anak panah itu terlepas ia tidak harus mengenai sasaran untuk membunuhnya. Ketika anak panah itu terlepas dalam jarak dua meter kanan dan kirinya akan gosong. Amai mengeluarkan sebuah peti dari dalam kamar. Membukanya. Ia menyelipkan pisau kecil dipahanya, menyelipkan keris di ikat pinggang bagian belakang, dan terakhir ia mengeluarkan golok bermata ganda. Cerita yang beredar mengatakan konon dengan golok itu Amai bisa melintasi sungai dengan berlari.
Desas-desus yang mereka dengar lelaki itu ada di rumah Ates. Sedang terbaring sakit setelah kemarin mereka hajar. Jika mau membunuhnya sekaranglah saat yang tepat. Mereka berjalan ke rumah Ates dengan penuh kemarahan. Menghardik siapa yang mereka temui. Menendang apa saja yang ada di depan kaki mereka.
Ditempat lain, Ates bersama istrinya masih kebingungan dengan menghilangnya Sendra. Perempuan yang rambutnya dikepang dua menyalahkan suaminya atas kepergian Sendra.
"dia pasti dengar Mas Ates marah-marah" katanya ketus sambil berlalu meninggalkan Ates, masuk ke kamar dan menutup daun pintu dengan membantingnya, sehingga menimbulkan bunyi yang keras.
Tak lama kemudian Akul dan teman-teman telah tiba di depan rumah Ates. Mereka berteriak-teriak memanggil nama Ates dan menyuruh keluar. Ates keluar. Alas yang telah dipenuhi rasa amarah maju kedepan mencengkeram leher Ates dan menanyakan keberadaan lelaki dengan goresan luka.
Ates memberontak memberi isyarat ke Alas untuk melepaskan cengkeramannya. Setelah cengkeraman itu lepas ia kemudian menceritakan menghilangnya lelaki itu secara tiba-tiba. Mereka berempat tidak ada yang percaya. Alas memukul dan kemudian menendang Ates dengan telak. Ates jatuh tergelatak dan keempat laki-laki itu kemudian masuk kerumah. Mengobrak-abrik setiap ruangan. Tetapi mereka tak juga menemukan lelaki yang mereka cari. Hanya satu ruangan yang belum mereka masuki. Kamar tidur utama. Kamar itu di kunci dari dalam oleh istrinya Ates.
Amai segera mendobrak pintu itu. Dan tak lama kemudian keluar lagi, setelah mengobrak-abrik seisi kamar yang membuat istri Ates berlari keluar menjerit sambil berlari ketakutan. Karena tidak menemukan yang dicari mereka merusak segala yang ada dekat mereka. Setelah semua benda di ruang tengah itu tak ada yang utuh lagi mereka baru meninggalkan rumah itu. Tepat pada saat itu terdengar jeritan seorang perempuan dari halaman rumah. Istri Ates menjerit sambil memeluk tubuh suaminya.
Tendangan Alas terlalu keras dan tepat di jantung, membuatnya seketika berhenti berdetak.
Ada sedikit rasa sesal terlihat di raut muka Alas ketika ia meninggalkan rumah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar