Kamis, 22 Desember 2011

Mantra Perontok Jiwa (4)

Di dalam kamar Sendra mulai terlihat bergerak. Samar-samar ia mendengar pembicaraan dari beranda rumah. Ia baru tahu bahwa perempuan yang menolongnya tadi telah bersuami. Ia kemudian bangkit, berjalan mendekati jendela kamar untuk dapat mendengar dengan jelas suara dari beranda rumah. Ia sadar kehadirannya tidak dikehendaki oleh pemilik rumah. Ia bisa mendapatkan kamar yang sekarang ditempatinya karena kebaikan perempuan yang rambut dikepang dua.

Sendra kembali ke ranjangnya. Ia duduk di tepi ranjang merenung.

Tak lama kemudian, secara sembunyi-sembunyi, dengan jalan yang masih tertatih ia pergi meninggalkan rumah itu melalui pintu belakang. Ia berjalan hingga ujung jalan desa. Ia terus berjalan hingga mencapai simpang tiga. Di situ ia mengambil jalan yang kiri, tak lama kemudian ia kembali, dan meneruskan jalan sebelah kanan.

setengah jam kemudian ia kembali ke simpang tiga itu. Ia berdiri lama sekali di situ.

"aku tak bisa melalui dua jalan ini, aku akan menunggu disini" batinnya.

Ia melihat sekeliling, ada bukit batu tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia berjalan ke arah bukit itu. Duduk bersila dan menyandarkan tubuhnya pada batu, kedua telapak tangan diletakan dipahanya. Rasa lelah membuatnya segera tertidur.

Sementara itu, dirumahnya, perempuan yang rambutnya dikepang dua kebingungan karena Sendra tidak ada dikamarnya. Dan di rumah surga terjadi kegaduhan. Keempat laki-laki ganteng yang sedang teler tiba-tiba bangkit, mengamuk membabi buta, berteriak dan saling memukul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar