Kedatangan Sendra, pemilik wajah dengan bekas luka, telah diketahui oleh empat laki-laki ganteng di rumah surga. Pada awalnya mereka berempat tidak terlalu menghiraukan hal itu, dan berusaha melupakan apa yang pernah terjadi sebelumnya.
Sedikitnya dua hari dalam seminggu Sendra berjualan di pasar kota. Sayur-sayuran yang segar dan pembawaannya yang kalem, menjadikannya daya tarik pembeli untuk mendatanginya. Dalam waktu yang tak lama Sendra telah menjadi populer bagi pelanggan pasar. Beberapa pedagang lama mulai memperlihatkan ketidaksukaannya, bahkan ada satu pedagang yang secara terang-terangan menunjukkan permusuhan, seorang perempuan yang juga berjualan sayur-sayuran. Sejak kedatangan Sendra barang dagangannya sering tidak habis sehingga dibawanya pulang, atau terkadang dibuangnya jika sudah kelihatan kering. Ia selalu mengingatkan kepada para pembeli untuk berhati-hati dengan Sendra. Dengan berbisik ia mengatakan kepada para pembeli itu bahwa Sendra memiliki mantra perontok jiwa.
"jangan melihat matanya atau menyentuh kulitnya" bisiknya kepada seorang pembeli yang hendak membeli dagangan Sendra.
Kabar kepopuleran Sendra di pasar membangkitkan kembali kejengkelan Alas. Ia memprovokasi teman-temannya, dan berhasil. Ia juga menyampaikan adanya beberapa orang di pasar yang tidak suka dengan kehadiran Sendra. Akul mengusulkan untuk bekerjasama dengan orang-orang tersebut menghabisi Sendra.
"diusir saja, tidak perlu dibunuh" kata Acoi
Kata-kata Acoi membuat Alas gusar "kita sudah pernah membuatnya pergi dan sekarang dia kembali lagi" katanya.
"aku setuju dengan Alas dan Akul" kata Amai
Acoi mendesah dan kemudian berlalu pergi. Jika ketiga temannya telah berkehendak tidak ada gunanya lagi berdebat. Sekuat apapun usahanya untuk mencegah ketiga temannya ia tidak akan berhasil menghalangi keinginan mereka. Ia akan memilih jalan lain.